Kalong yang Bimbang dengan Pikirannya

Semalaman begadang ngerjain tugas dan tidak tidur adalah hal yang biasa buat mahasiswa. Ya iyalah, katanya agent of change, harus kuat, tahan banting, kuat ngalong semalaman dan jadi Bruce Wayne di pagi hari. Because I’m Batman!!!. Walau kelas pagi dinikmati dengan merem melek nggak jelas, setidaknya bisa merasakan time travel. Bagaimana tidak? masuk kelas jam 6.45 tiba-tiba udah jam 8. Duh, jangan ditiru.

Setengah sadar menapaki jalan kembali ke goa, badan yang tinggal tulang ini pun seperti tak lagi berasa. I’m high, man. Tergeletaklah seorang pemuda kumal kucel tak sadarkan diri di ruangannya yang tak nampak lagi seperti kamar, sebutan gudang mungkin lebih pas.

Teredengarlah seruan panggilan yang mengembalikan pemuda tersebut ke dunia nyata. Dia berjalan, kembali, menyusuri setiap jengkal aspal yang menyaingi gambaran permukaan bulan.

Berdiri ndempet tembok mengantri sembari mencoba mengais kesadaran, terdengar suara dari atas mimbar. Hal yang biasa. Pengingatan kembali disertai penanaman nilai agar hidup seorang manusia lebih tertata.

Tetapi, dengan datangnya pegal yang menggoda untuk pergi, datang pula kata-kata yang melempar kesadaran kembali ke tubuhnya. Menampar otaknya untuk berputar setelah vacuum beberapa waktu.

“NKRI harga mati. Kita harus bersatu tidak peduli suku atau ras.”

Datanglah Gafatar yang mengendalikan elemen-elemen yang tak jelas itu. Disusul dengan ISIS yang menurut mimbar datang dari rusia. What? Mother of Russia? What happened to Murica? Well, I think the one who shoot what-so-called-Jihadist is Murica, right? Man, oh, man.

Salah satu alat pengendalian massa adalah Fear. Terjadi gesekan di pikiran pemuda yang tak jelas itu. Antara sisi kontrolversialnya seperti: Conspiracy Theorist, Atheist, Agnostic, and so on, dengan sisi yang mengalun dalam harmoni waktu.

Semua ini tentang keseimbangan.

Dan memori masa lalu kembali diagung-agungkan. Sebagai pengobar semangat berjuang untuk hidup yang lebih baik dan dapat diterima di sisi Pencipta. Namun, yang terasa hanya kebencian terhadap sesama yang lebih dalam dan semakin besar.

“Demokrasi?
Ini tak sesuai pahamku
Turunkan burung itu
Kami akan kembali
Ingatlah
Kami adalah asing yang akan menjadi asing
Di akhir waktu”
Ketika menikmati hak berpendapatnya di muka umum.

Apa ingin sosok pembanding zaman kembali dengan kebjakannya? kau sudah bersamanya sekarang. Nyawamu murah bung.

Keseimbangan kembali tergoncang. Skeptisme yang hilang atas kabar-kabar yang disiarkan, menyiratkan mereka percaya. Sepenuhnya. Melebihi Tuhan.

“Weh, terus apa bedanya dirimu dengan mereka? Lihat tulisanmu ini. Tidak beda jauh”

Pemuda tak jelas itu terperanjat dan tertidur. Bukan saya yang menulis ini. Ini bisikan setan. Salahkan dia atas semua kesesatan di dunia.

Duh, pikiran saya jadi media debat antar paham yang tak paham dengan paham yang dipahami.

Oh, mahasiswa, rubes banget uripe ko kuwe.

Image Source: http://whateverblog.dallasnewsblogs.com/files/2014/01/bat.jpg
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s