Bangunan Itu Bukan Rumah

Akhir-akhir ini, perasaan itu kembali. Setelah sekian lama terkubur, ia mulai menghantui. Mengembalikanku pada kenyataan. Membunuhku dari dunia yang dengan polosnya kucipta. Mungkin aku terlalu naif saat itu.

Luwak Salto, dengan tainya, diam-diam mengusik kepalaku yang busuk ini. Aku pikir aku durhaka. Ternyata hanya aku saja yang terlalu merasa. Kekosongan itu. Kehampaan yang ada di bangunan tua itu. Yang kebanyakan dari kalian menyebutnya dengan Rumah. Kau tak lagi mengenalnya. Ada memori di sudut kepalamu, namun itu berbeda. Kau tak lagi merasa.

Dunia yang dulu terlihat hijau. Angin yang menderu namun menyejukan. Dan hujan. Kala kedinginan belum mematikan. Menjadi nyanyian pengiring tidur. Ya, hanya sebagai cerita. Seperti cerita-cerita tentang kehebatan, kebengisan, kebodohan dari manusia di masa yang lalu. Yang entah nyata atau hanya rekaan yang bekuasa dan menanamnya di otakmu. Mungkin aku yang terlalu polos. Dan aku yang terjebak dalam lorong waktu. Seperti Raisa, minus cerita romansa.

Ahh, mungkin hanya aku yang terlalu terbawa emosi. Dengan bodohnya masuk ke dunia tai Luwak.

Dammit, Wak!
Gimme that coffee instead.

Catatan: Entah mengapa postingan di blog luwak lenyap. Entahlah, mungkin saya berhalusinasi.

Image Source: https://cdna2.artstation.com/p/assets/images/images/002/429/298/large/benjamin-blagg-old-farm-house.jpg?1461634358
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s