Entahlah

Setiap kali menonton program ajang pencarian bakat di televisi, pasti terbesit di pikiran tentang kritik yang membangun. Entahlah, mungkin karena sudah masuk perguruan tinggi atau saya yang kebanyakan baca artikel-artikel sesat, dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan ber-ber lainya semakin jelas terlihat tentang kritik yang membangun ini.

Waduh, apa sih kritik-kritik ini.

Sebelum masuk lebih dalam ke lubang setan, ada baiknya kita bertanya ke Wikipedia tentang definisi kritik 1. Ya walau mirip sejarah, tergantung siapa yang menang. But that none of my business *menenggak kopi

Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.

Wow, my head hurts.

Coba sekarang kita lihat kitab 2 yang entah masih banyak yang baca atau tidak.

Kritik /kri·tik/n kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.

Apa yang dapat saya simpulkan, kritik itu gampangnya mirip komentar di blog. Menyampaikan pendapat atas apa yang dirasakan tentang suatu hal. Toh, ada kebebasan berpendapat. Yang jadi masalah adalah ketika sesuatu itu berlebihan atau dipelintir. Nah, itu kerjaanya siapa, tak tahu. Yang pasti, segala yang berlebihan itu tidak baik. Dadi aja kakehen nyangkem.

Disinilah pikiran saya mulai agak nakal. Setelah menjiwai artikel terselubung ini, saya tertegun. Wiih, ternyata sudah dari dulu. Ternyata istilah itu warisan si mbah. Tapi sebagai mahasiswa yang katanya open-minded, saya tidak langsung percaya. Karena kebanyakan masalah terjadi karena masyarakat langsung dan terlalu percaya pada suatu media. Entah benar atau salah, entahlah, karena kebenaran hanya milik Tuhan, tapi kalau nggak punya ya… entahlah, yang penting anda paham dengan maksud saya.

Kritik sendiri kan, menurut kutipan kitab diatas, itu untuk memperbaiki. Nah, terus kok kenapa ada istilah kritik yang membangun padahal kritik sendiri itu gunanya untuk  memperbaiki?

Tapi kan kalau nggak di kasih cocot yang banyak mereka nggak bakal ndengerin kita, makaya kita banyak aksi di jalan, bakar ban, dan sebagainya.

Dalam pikiran saya, ini seperti anak muda yang posting di internet, diberi tanggapan agak nylekit sedikit, sudah teriak “Fuck You, Haters!”. Padahal,  kalau mau dipakai aja sedikit itu isi kepala, ya bisa diambil ekstraknya. Tapi ya gitu, antara tanggapan dan kritik itu beda tipis. Yang satu nyangkem, yang satunya ada solusinya.

Tapi apalah daya saya yang tak bisa baca buku karena tak tahu yang mau dibaca apa. Atau mungkin semua ini terjadi karena pengaruh era globalisasi, wahyudi, dan segala antek-anteknya.

Entahlah.

Mungkin anda ingin mencoba menjelaskanya ke Budi?

image source: http://www.workstyle.ch/wp-content/uploads/2015/01/Voiceover_small-illustration1.jpg

  1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Kritik 
  2.  http://kbbi.web.id/kritik 
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s