Amaroen: Prolog

Namanya Ahmad Amaroen. Oleh temannya, dia sering dipanggi Amar atau Marun. Dia masih berumur 17 tahun. Amar sering bergaul dengan orang dewasa dan anak-anak. Contoh saja, Budi, mereka sudah berkawan sejak Budi masih bingung lepas sekolah menengah. Atau Damar, anak umur 7 tahun yang sering bermain layang-layang di tepi sungai.

Amar tidak pernah menyangka akan menemukan tubuh Budi yang membiru malam itu. Kesunyian yang selalu didambakan kawannya itu, meracuninya. Meninggalkan bau tak sedap yang menusuk sampai ke dada.

***

“Run, ayo sini”, suara terdengar dari luar ruang kelas.
“Tidak, lebih baik aku disini saja”
“Ah, kamu tidak seru”, suara itu perlahan menjauh meninggalkan Marun sendiri.

Marun terlihat sibuk membaca buku yang baru ditemukannya tadi pagi di gerbang sekolah. Itu bukan buku tua yang penuh dengan rapal-rapal bahasa sanskerta atau buku dewasa dengan wanita yang menebar pesona. Hanya buku cerita bergambar untuk anak umur 7 tahun dengan hewan sebagai tokoh utamanya.

Walau umurnya 17 tahun, Marun terlihat menikmati buku itu. Dia perhatikan setiap lembarnya dengan seksama. Marun terbawa. Sudah lama sejak terakhir kali Marun membaca buku, selain buku pelajaran tentunya. Kepalanya seperti ingin meledak setiap hari melihat rumus-rumus dengan simbol yang dia tidak paham kegunaannya.

Dan gelegar petir memecah keheningan ruang kelas yang tak serasa berpenghuni …

 

image source
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s