Burjo Saat Listrik Mati

Malam.

Ah, sudah biasa. Itu hanya waktu penantian pagi setelah siang yang melelahkan.

Waktu tidur katamu?

“Malam adalah tempat bagimu untuk beristirahat yang Tuhan siapkan dengan cuma-cuma”

Tak seperti surga, ah, kau pasti sudah tahu apa yang perlu kau bawa. Untuk sekedar menghidup baunya saja, kau perlu seumur hidup. Itu juga kalau kau tidak membangkang pada akhirnya, bisa-bisa kau dijebloskan ke sel tanpa besi itu. Ah, kau sudah tahu ceritanya.

Tapi apalah dayaku, dihimpit antara listrik yang selalu menggangu dan waktu yang tak pernah mau menunggu.

Ketika untuk sekadar membaca saja kau perlu kata “asu”, disitu ada yang salah. Entah PLN atau Tuhan yang sedang mengujimu, yang pasti dosenmu tidak mau tahu.

Jadi, lebih berkuasa mana, PLN, Dosen, atau Tuhan yang tak pernah kau beri waktu?

Terkadang terbesit pikiran mengikuti Budi untuk segera bertemu dengan-Nya. Memang bedebah Budi, sampai-sampai aku lupa tanggal berapa ini.

Bagaimana bisa peristiwa itu berlalu begitu saja? Entahlah, yang ku tahu mereka sedang ketakutan melawan hantu. Terlebih saat listrik padam seperti sekarang ini. Ditemani lilin saja mereka tak sudi. Talut ada celurit atau palu yang melayang-layang. Atau karung hitam itu yang mencari tahu kapan pulang.

Ah, apalah dayaku, kasihan orang tuaku kalau sampai aku dibawa. Bisa-bisa tak lulus tepat waktu.

 

image source
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s