Bakarlah Segala Peduli

Ingin Budi menangis. Menjerit hingga langit teriris. Tak pernah ia merasa sangat tak berdaya seperti ini. Badan bergetar, pikiran tiada berputar. Semesta berada di kepala Budi.

Ingin Budi meledak. Entah dengan pistol atau erangan. Belati atau obat. Setidaknya spray deodoran sudah cukup. Ah, walau begitu Budi tetap Budi, tiada hati untuk jalan kaki.

Budi berfantasi berdialog dengan Tuhan. Duduk berdua dengan asap rokok dimana-mana dan kopi di atas meja. Bicarakan tentang segala. Tentang bumi, tentang dunia, tentang surga, tentang neraka. Juga dosa dan pahala. Betapa bahagia Budi rasakan. “Ah, Tuhan. Sekarang baru ku tahu apa yang mereka rasakan. Sebuah pertemuan.

Ah, Tuhan. Terkadang aku mengutuk kau beri aku hati.”

Peduli. Sebuah benalu yang menjangkiti. Budi, budi, betapa kasihannya dirimu.

Jangan kau pergi. Tiada bahagia yang kau cari. Sudah berapa kali tahu ku beri. Hanya kau meninggal hati. Mati sebagai tak berbudi.

Ah, persetan“, Budi menantang.

Budi kini bicara dengan jiwanya. Semua pemikiran yang pernah ia baca, kanan yang Budi tak sukai, kiri yang Budi coba selami. Waktu tiada terasa, atau mungkin tak pernah ada. Yang membuat Budi tenang, Tuhan tak jalang. Ia tidak mengancam Budi. Tak juga hadapkan segala godam kubur yang selalu Budi dengar dari orang-orang. Budi sudah tenggelam. Tak ada lagi yang dapat menikamnya.

Bedebah memang. Budi, yang tak ingin mengenang, ia terkenang. Menggenang dengan tubuh menegang. Budi bebas dari kekang.

Ah, Tuhan. Akhirnya kita jumpa


image source
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s