Budi Mulai Mengakhiri: Bagian 1

Malam tetap sunyi. Langit sedang goyah pijakannya kala Budi berjalan menyusuri trotoar. Mengingat pertanyaan-pertanyaan yang menjadi siksaan bagi para tahanan untuk mengaku: “Sekiranya menaklukan Sepeda Mesin, sahaya tidak bisa, Tuan”. Menggelikan memang, melihat umurnya yang hampir berkepala dua tapi tidak berdaya pada sebuah mesin.

Budi selalu menjawab, “Olahraga, Kawan!”. Nyatanya, ia menyukainya. Katanya agar kepala berputar. Menapaki setiap jengkal jalanan dengan lampu remang-remang, membangkitkan suatu rasa tersendiri. Terkadang, Budi tenggelam dalam pikirnya. Misalnya, saat hampir saja ia menggadaikan nyawanya itu yang tak seberapa dengan bayangan bokong temannya yang semok.

Selalu tujuannya tak lain dari Automatic Teller Machine yang makin hari makin kecil angka yang muncul di layar monitor mesin kotak itu.

“Ah, sudah aku apakan? Tak pernah sekalipun aku beli Orang Tua! Mustahil!,” deru Budi dengan raut yang bersungut-sungut.

Geramnya Budi bukan tanpa alasan. Saat ini ia sedang menjalani masa remedial. Masa-masa yang melelahkan, jiwa dan badan. Bagai kerja paksa untuk hidup lebih baik yang entah keberadaanya. Bagaimana tidak, semua pikir dan tenaga sudah menguap hanya untuk kenyataan bahwa Budi harus mengulang tahun depan. Bayar pula.

Pada kesekian kali kaki ia langkahkan ke mesin uang itu, tanpa bayangan bokong temannya yang semok, mulai berkembang biak bakteri sesat: apa arti kuliah. Sekian tahun, bayar, duduk, mendengarkan celotehan dosen yang tak ada menariknya sama sekali. Cerita pengantar tidur lebih menarik dibandingkan dengan kata-kata yang keluar dari mulut dosennya. Lalu ujian.

“Ah, persetan dengan nilai, itu bisa kau jilat dari luang anus para pendidik. Kau pun bisa jual badan kalau mau.”

Bedebah memang. Sebelum pikirannya melaju tak terhentikan, teringat Budi dengan perkataan Jean, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”. Budi menjelma menjadi Minke, ah betapa bodohnya ini. Buku yang sudah ribuan kali orang baca, ia baru menelannya tak lebih dari satu bulan lalu.

“Tak semua dosen seperti itu,” kata Budi coba halangi laju deras sesat pikirnya.


Iklan

What are your thoughts?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s