Aku yang Berlagak

satu tahun lalu …

Pernah terpikir, setiap kali mendengarkan lagu dari Efek Rumah Kaca, EyeFeelSix, dan Pandji. Setiap kali mendengarkan cerita tentang Munir, Thukul, dan Tahun ’98. Setiap kali mendengarkan tentang penangkapan aktivis, dianggap subersif. Terasa kengerian. Bentrokan itu, kericuhan itu, teriakan itu. Nyawa tenggelam dalam darah.

Apalah aku, seorang mahasiswa. Berlagak mencurahkan gelisah melalui tulisan. Menganggap tulisannya berbisa dan mematikan. Menganggap tulisannya dapat mengubah dunia. Walau hanya dalam pikiran. Walau hanya satu kepala.

Apalah yang aku perbuat? Berlagak skeptis menantang Tuhan? Memahami segala paham? Tapi pada orang tua, ah, adakah perlu ku cerita?

Aku tak sepertimu, ku harap belum.

Berdiri tegak menggenggam keyakinanmu. Hasil pemikiran setiap malam yang telah lalu. Dari asap dan pahit. Kamu memegangnya erat.

Aku melihatmu, saat itu Kamu sehabis menyaksikan pertandingan. Tak peduli menang atau kalah. Kamu berjaya. Kamu berapi-api. Kamu bergairah. Terlebih ketika Kamu berteriak. Kamu mengubah lawanmu menjadi anjing. Kamu merdeka.

Apalah aku, seorang mahasiswa yang berlagak menulis. Menganggap tulisannya dapat menjadi api menjalari setiap sendi. Nyatanya aku masih tunduk pada tugas-tugas itu. Tak punya waktu. Tak sepertimu.

Apalah aku.

  • Unknown. 1 Juni 2017 01:46. https://www.pinterest.com/pin/13510867603909966/
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s