Terkutuklah Engkau, Buku!

Buku, kata orang-orang adalah jendela dunia. Ia membuka matamu tentang masa lalu dan masa depan. Masa kini yang sedang kita jalani. Tentang fantasi akan masa depan yang utopis. Tentang masa lalu yang sadis. Tentang masa kini yang membuat diri ingin nadi teriris. Kembali pada Tuhan yang hampir habis.

Atau tentang masa sekolah yang penuh dengan gejolak cinta. Berbunga hingga mengakar kedalam jiwa. Membuat hidup menjadi lebih bernyawa. Membuat gairah yang tak pernah ada sebelumnya. Mungkin masa pubertas belum cukup untuk mendewasakan hati dan pikiran. Bahwa hidup tak seindah buku dengan pelbagai ceritanya. Begitulah kata orang yang juga sempat membagikan meme “Hidup tak semudah cocot Mario Teguh.”

Bacalah buku sebanyak-banyaknya. Hisap pelbagai ilmu yang ada di dalamnya bagai candu.

Namun, ketika buku menjadi tempat pelarian ketika diri tak bisa hadapi hidup yang kian hari kian mengutuk. Ketika harapan sudah redup, betapa klise kalimat ini. Ada yang salah.

Kau begitu mencintai buku. Kau sisihkan uang yang dapat kau pergunakan untuk membeli baju, memperbaiki penampilanmu, dan mendapatkan wanita. Kau tidur dengan tumpukan buku di kasurmu. Betapa sungguh besar cintamu akan buku.

Tapi, ketika kau sedang berkumpul dengan kawan-kawan seperjuangan, ruangan sepi tak ada diskusi. Kau simpan segala ilmu untuk dirimu sendiri. Kau lebih baik membaca daripada basa-basi dengan kawanmu itu.

Lantas, apa bedanya dengan handphone yang selama ini kau anggap sebagai jurang pemisah pada masa globalisasi ini. Apa bedanya dirimu dengan generasi milenia yang kau anggap tak peka.

Mungkin, kawan, kita saja yang jarang bercakap-cakap berbagi cerita sehingga kau memilih buku sebagai anestesi. Seperti cerita Cak Dlahom milik Rusdi Mathari. Kita berbahagia ketika lebaran, tetapi lupa ada tetangga yang sedang kesusahan. Atau status Phutut EA. Menyumbang uang dan tenaga ketika ada tetangga yang meninggal karena sakit dan tak bisa membayar untuk pengobatan, tetapi tak membantu semasa masih hidup dan dirundung kebingungan.

  • Unknown. 3 Juni 2017. 00:00. https://www.thoughtco.com/heinrich-heine-on-burning-books-251009
Iklan

What are your thoughts?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s