Metamorfosis Kupu-kupu Menjadi Bangkai

Where your patience?
Where was your antennas?
Where was the influence you speak of?
Where was your antennas again?
Where was your presence?
Where was your support that you pretend?
-Kendrick Lamar, u

 

Kupu-kupu. Ketika mendengar kata ini terbanyang pelbagai macam hal dalam kepala yang mungil ini. Dari sekadar hewan hingga wanita. Tak lupa juga, kata ini juga dijadikan istilah tersendiri di kehidupan kampus yang fana ini.

Mahasiswa Kupu-Kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang. Apa yang salah dengan mahasiswa yang berlabel ini? Apakah mereka hina hingga dikucilkan bahkan dimusnahkan? Apakah mereka memang tak pantas untuk hidup?

Ada salah satu teman di media sosial, selepas buka puasa tadi, mengeluarkan pernyataan, “Saya mahasiswa kupu-kupu dan saya bangga.” Tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Hanya saja, jikalau pernyataan tersebut dilontarkan atas dasar agar terlihat rebel, ada yang salah.

Dalam pikiran yang sempit ini, ketika mendengar kupu-kupu, teringat dengan album Kendrick Lamar, To Pimp A Butterfly. Jikalau kupu-kupu yang dimaksud adalah seperti apa yang digambarkan oleh Kendrick, bruh, bless you. Namun, sebaliknya, kalau kupu-kupu tersebut hanyalah bentuk kebencian atas mahasiswa yang katanya aktif, kasihan dirimu itu, kawan.

Jadi seperti ini, kau pasti sudah tahu bagaimana keadaan negeri ini. Dengan macam-macam perwakilan rakyat, pejabat, birokrat, dan aparat yang mempunyai kuasa, menyalah gunakannya. Kau pasti sudah bosan mendengar berbagai macam berita di televisi, radio, dan koran.

Bayangkan bahwa kampus adalah miniatur negara, mahasiswa adalah rakyat dan yang duduk di kelembagaan adalah perwakilan. Tak usahlah kita bawa rektorat dan birokrasinya. Terlalu jauh untuk membahas sampai disana. Setidaknya untuk saat ini.

Jikalau semua mahasiswa berpikiran macam kau, acuh tak acuh. Mau jadi apa kampus? Karena, Kawan, kekuasaan itu adalah candu dan kita mahasiswa bukanlah orang suci. Mereka yang menjabat sebagai perwakilan mahasiswa, mereka yang menjabat sebagai pengurus wadah mahasiswa, jikalau tidak ada yang mengawasi, tidak mustahil akan berakhir sama dengan para, ah kau tahu, di negeri ini.

Mungkin kau bosan. Kau jengah. Melihat mahasiswa yang katanya aktif, yang menyebut diri mereka aktivis, tak pernah memberikan manfaat kepada sekitarnya. Kau benci dengan mereka, atau kau membenci dirimu sendiri?

Memang, kau pintar. Kau memenangkan berbagai macam kejuaran. Kau meraih emas di berbagai macam kompetisi. Kau harumkan nama kampus dan ibu pertiwi. Tapi kawan, apakah yang dapat kau lakukan hanya sekedar memberi pengharum pada ruangan penuh bangkai? Mengapa kau tak mencoba untuk mengakhiri pembantaian massal di ruangan tersebut? Takut mati? Bukankah hidup hanya menunggu mati?

Ah, aku tahu, dunia tiada berguna. Ia fana. Kita hanya sebentar sahaja. Surga di depan mata. Ah, aku tahu, aku terasuki setan masa lalu.

  • Guang-Yang. Under The Sky. 8 Juni 2017. 01:21. http://guang-yang.deviantart.com/art/Under-the-sky-649355764
Advertisements

One thought on “Metamorfosis Kupu-kupu Menjadi Bangkai

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s