Diam adalah Emas Imitasi

Malam itu, saya pulang ke kos. Sebuah tempat yang memang jarang saya singgahi beberapa bulan terakhir ini. Bukan untuk pergi mengunjungi tempat wisata yang sekarang banyak digandrungi mahasiswa-mahasiswi seumuran saya. Bukan pula untuk pergi ke mall, bioskop, atau cafe yang sekarang banyak digandrungi mahasiswa-mahasiswa seumuran saya. Bukan pula untuk pergi ke perpustakaan, laboratorium, atau rumah dosen agar penelitian saya dapat lolos penyaringan nasional yang sekarang banyak digandrungi mahasiswa-mahasiswi seumuran saya. Bukan pula untuk belajar pelbagai macam bahasa, menyelesaikan laporan, mengikuti konferensi, atau pergi ke luar negeri yang sekarang banyak digandrungi mahasiswa-mahasiswa seumuran saya.

Tetapi karena saya lebih banyak berkehidupan di kampus. Ya, berkehidupan di kampus. Makan di kantin, tidur di kantor lembaga. Bukan untuk mengerjakan program kerja, hanya mengisi kekosongan waktu melihat sudah tidak ada lagi kuliah ataupun tugas yang biasanya menghantui. Bukan karena saya sudah hampir lulus. Saya bukan tipe mahasiswa yang menghabiskan semua waktu saya untuk akademik. Toh, saya sendiri berpikir, untuk apa gunanya IP 4.0 kalau segala macam yang diajarkan di perkuliahan tidak saya pahami. Saya bukan macam mahasiswa yang aktif berdiskusi. Hanya akhir-akhir ini saja saya mulai tertarik dengan pelbagai macam hal di luar akademik.

Suatu hari saya mengikuti suatu diskusi. Sebelumnya saya jarang ikut meramaikan suara dengan pendapat dan retorika dengan pemanis buatan. Jadi saya diam saja, mendengarkan sambil mengamati kalau saja ada mahasiswi yang manis-manis. Memberanikan diri untuk mengeluarkan pendapat memang terkadang menjadi masalah tersendiri, khususnya bagi saya. Apakah perkataan yang keluar dari mulut saya ini termasuk perkataan bermutu atau hanya sekadar mencari perhatian. Di sisi lain, memang ada perasaan untuk menyampaikan pendapat. Ah, saya teringat dengan Sartre yang sering disalah artikan, “Hell is Other People.”

Sepulangnya dari diskusi tersebut, saya pulang ke kos. Sebuah tempat yang memang jarang saya singgahi beberapa bulan terakhir ini. Tertidurlah saya dilantai beralaskan selimut. Bukan, bukan saya tidak punya kasur. Kasur ada, tetapi kini beralih fungsi sebagai tempat pakaian kotor yang memang sudah selayaknya dicuci. Saya sendiri terkadang lupa sudah berapa lama pakaian-pakaian tersebut tidak saya cuci. Ah, mahasiswa, tinggal setrika dan beri sedikit parfum, sudah. Terkadang saya miris melihat keadaan kos saya yang lebih mirip gudang daripada tempat tidur. Malas yang mulai menghantui sejak semester dua belum hilang juga sepertinya.

Satu hal yang aneh adalah saya bermimpi. Sudah lama saya tidak bermimpi. Hanya hitam lalu tiba-tiba sudah pagi lagi. Ah, betapa nikmatnya sebuah mimpi. Bagaikan jalan-jalan ke sebuah tempat wisata dan pulang dengan membawa buah tangan kenangan, bukan foto yang siap dipajang di media sosial. Seperti apa yang saya katakan tadi. Ada satu hal yang aneh. Dalam mimpi tersebut, saya teringat kembali tentang buku-buku yang saya pinjam dan belum saya kembalikan, entah saya akan kembalikan atau tidak. Saya cukup terkejut karena ternyata banyak juga buku yang belum saya kembalikan. Berapa besar denda yang harus saya bayar, ah, cukup membuat berkeringat.

Layaknya mimpi-mimpi pada umumnya, awal dan akhirnya tidak kita ketahui. Kita tiba-tiba ada di suatu tempat pada satu kedipan mata kita sudah beranjak ke tempat lain yang mustahil kalau bukan cerita-cerita novel fantasi. Dihadirkanlah saya kembali pada diskusi yang saya ikuti sebelum tidur tadi. Deja Vu dalam mimpi. Sepertinya Deja Vu kurang tepat untuk menjelaskan kejadian ini. Mungkin karena terlalu dipikirkan maka dari itu terbawa sampai mimpi. Dalam mimpi tersebut saya mengeluarkan suatu pendapat yang tidak dapat saya ingat dengan jelas. Tapi saya merasa pendapat tersebut kurang bermutu. Anehnya yang menimpali adalah kawan saya yang tidak ada dalam diskusi tersebut. Betapa anehnya, mengapa kawan saya ini muncul.

Terbangunlah saya dengan badan penuh keringat. Bau yang cukup menusuk tercium. Bukan karena keringat tersebut karena memang sudah beberapa minggu, atau bahkan bulan saya tidak mandi. Ah, kemalasan yang memalaskan. Saya periksa beberapa tumpukan buku yang ada disebelah kasur. Mencari buku-buku yang belum saya kembalikan. Ternyata hanya satu buku saja, dari perpustakaan pusat kampus, yang sudah sejak enam bulan lalu. Berapa besar denda yang harus saya bayar, ah, lihat saja nanti di akhir semester.

Jadi, tadi kita sedang membicarakan apa?

  • Roland Topor. Coup de poing dans la gueule. 22 Juli 2018. 04:26. http://www.lintermede.com/exposition-topor-bibliotheque-francois-mitterrand.php
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s