Ada yang Mati… Lagi

Lagi. Ada lagi yang gugur di medan perang. Tertembak tepat di garis perbatasan. Dia tepat sembunyi di balik batu. Aku melihatnya saat peluru menembus kepalanya.  Ah, hal macam ini membikin aku berpikir. Apalah artinya jikalau pasti mati? Toh, tak ada satu barang pun yang kita bawa nanti.

Saat itu aku masih polos-polosnya. Masih buta akan keadaan dunia. Ah, mana aku peduli sama keadaan mereka yang dipaksa pindah dari tanahnya sendiri atas nama pembangunan. Ah, apalagi yang diancam, ditendang, atau dipukul sama tentara atau polisi. Tentara, bung! Mereka harusnya menjaga negara kita, bukan? Bukan jadi kacung pemerintah atau pengusaha. Polisi, bung! Mereka harusnya melindungi, mereka harusnya mengayomi. Bukan atas nama undang-undang yang sudah tidak jelas itu memaksa kita menandatangani surat BAP.

Ah, kuliah, kawan. Adalagi yang gugur. Terbayang hidup akan masuk dalam barisan yang menganggur.

“Kau mau anggur?,” seorang orang tua dengan kepala botak menawari.

Ah, yang ada dalam kepalaku, ingin cepat-cepat baca cerpen halaman tujuh dari majalah yang baru ku beli.

  • John Langley Howard. The Unemployed. 26 Juli 2017. 06:28. https://www.pinterest.com/pin/176344141641301045/
Advertisements

What are your thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s