Boleh Aku Diam Menyaksikan?

Malam di pemukiman kumuh yang ada di sudut terpecil kota metropolitan. Tertidur orang-orang kecil kotor yang menjijikan. Rambut tak pernah dipotong. Pakaian tak pernah diganti. Badan tak pernah dimandikan. Bau busuk pasti tercium setiap orang-orang dari pemukiman ini lewat. Bukan apa-apa, selain karena memang tak punya uang, hanya ingin hidup sederhana. Setidaknya seperti itu kata salah seorang pemuda kumal. Melihat umurnya sekarang 19 tahun, harusnya ia sudah mengenyam bangku kuliah. Tapi apa daya, hidup memang begitu kan?

Ah, kalau kata para pengusaha, aparat, pemerintah, mereka itu malas bekerja. Makanya hidup mereka melarat seperti ini. Sudah melarat bikin kotor kota. Benar-benar menyusahkan saja sampah masyarakat itu. Tapi, kalau kata orang-orang yang sering teriak-teriak di jalan pas siang hari, ini semua memang sudah diperhitungkan. Mereka dipersulit dulu secara ekonomi. Dari situ lingkaran setan mulai. Ada anak yang putus sekolah karena tidak kuat bayar uang sumbangan. Ada bapak yang bunuh diri karena bingung bagaimana cara mencari uang. Ada ibu yang melacurkan diri demi membeli susu bayinya. Ada pemuda yang jadi preman karena cari kerja selalu ditolak karena cuma lulusan sekolah dasar.

Suatu malam terjadi kebakaran di pemukiman ini. Kebakaran hebat yang disebabkan oleh, sebut saja oknum, yang ingin membebaskan lahan tersebut untuk pembangunan. Ya, pembangunan. Atas nama pembangunan orang-orang yang entah siapa itu melakukan pembakaran. Benar-benar setan tanah. Ah, agaknya tidak pantas menggunakan kata itu, takut aku dibilang komunis, bisa-bisa kepalaku dipenggal. Tapi biar, karena mereka benar-benar setan tanah.

Orang-orang yang tinggal di rumah yang terbuat dari berbagai macam sampah itu bertebaran di muka bumi. Sayang, bukan karunia yang mereka dapati tetapi kenyataan bahwa mereka bukanlah orang yang beruntung. Sudah tak punya apa-apa diperlakukan semena-mena pula. Langit memerah, mungkin ikut merasakan kesakitan dan kebencian. Benar-benar biadab. Dimana Dia?

Yang menyedihkan adalah tidak ada macam kampanye di media sosial. Tidak ada tagar #SaveWargaKampungMerah. Tidak ada aksi di perempatan jalan kota yang ramai untuk sekedar mengabarkan bahwa terjadi tragedi. Tidak ada debat di setiap komentar yang ngotot bilang ini masalah kemanusiaan. Yang ada hanyalah tumpukan buku bekas, pakaian, rumah, dan harapan yang terbakar. Yang ada hanyalah orang-orang kota yang menyaksikan kebakaran bagai kembang api pergantian tahun. Yang ada hanyalah orang-orang kota yang merekam kebakaran bagai adegan terjun payung.

Entah, apakah ada korban dalam kebakaran itu. Tapi yang aku tahu ada yang mati. Peduli. Kemanusian. Tanpa memandang iman. Tanpa memandang strata. Aku kira kita semua manusia bersaudara? Ah, tapi menyebarkan tiket surga memang lebih menarik ketimbang harus hati meradang. Lebih menarik daripada harus ditendang.

Semoga kau termasuk orang-orang yang mau berpikir. Tapi, jikalau kau berpikir, apakah kau termasuk orang-orang yang hanya membaca pesan dan diam saja? Semoga kau termasuk orang-orang yang mau berpikir dan merasa.

“Ah, maafkan aku, aku hanya terbawa buku yang baru saja aku baca. Sungguh, aku masih percaya Tuhan.”

  • William Coventry Wall. View of the Great Fire of Pittsburgh.  7 Agustus 2017. 21:27. https://en.wikipedia.org/wiki/Great_Fire_of_Pittsburgh
Iklan

What are your thoughts?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s